Samarinda, 27 April 2026 – Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman bekerja sama dengan Dewan Kebudayaan Nusantara dan Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kalimantan Timur menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Ketahanan Pangan Kalimantan Timur Berbasis Kekuatan Adat dan Kearifan Budaya”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Theatre Gedung Integrated Laboratory Universitas Mulawarman ini dihadiri oleh akademisi, pemerintah, tokoh adat, pelaku usaha, petani, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pembangunan ketahanan pangan daerah.

FGD ini dilaksanakan sebagai forum dialog untuk menggali potensi, tantangan, dan strategi penguatan ketahanan pangan Kalimantan Timur melalui pendekatan yang berbasis pada budaya lokal dan pengetahuan masyarakat adat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun sinergi lintas sektor dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan di tengah perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan meningkatnya kebutuhan pangan akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Dalam sambutannya, perwakilan Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Dr. H. Muhammad Bazar, M.Si., menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai gotong royong dan kearifan lokal dalam pembangunan pertanian. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan semangat kebersamaan masyarakat yang selama ini menjadi modal sosial penting dalam membangun ketahanan pangan. Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan serta pengembangan sumber daya pertanian lokal.

Pada sesi pemaparan, Fahmi Himawan, S.T., M.T. dari DPTPH Provinsi Kalimantan Timur menjelaskan bahwa Kalimantan Timur masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian pangan. Sekitar 60 persen kebutuhan beras daerah masih dipasok dari luar wilayah. Meskipun produksi padi menunjukkan tren peningkatan, beberapa komoditas pangan lokal seperti jagung, ubi-ubian, dan padi ladang justru mengalami penurunan produksi. Oleh karena itu, diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal seperti jelai, sorgum, padi lokal, dan umbi-umbian menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Fahmi juga menyoroti pentingnya pemanfaatan lahan non-sawah, penguatan lumbung pangan masyarakat, serta pendataan kalender tanam adat sebagai bagian dari integrasi kearifan lokal ke dalam kebijakan pembangunan pertanian. Menurutnya, pangan lokal Kalimantan Timur memiliki keunggulan adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat sekaligus mendukung keberlanjutan sistem pertanian.

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. H. M. Aswin, M.M. memaparkan kondisi ketahanan pangan Kalimantan Timur yang menghadapi tantangan serius akibat alih fungsi lahan, dominasi komoditas monokultur, dan meningkatnya kebutuhan pangan seiring pembangunan IKN. Ia menjelaskan bahwa masyarakat adat Kalimantan Timur sesungguhnya telah memiliki sistem pertanian yang terbukti adaptif terhadap kondisi lingkungan melalui praktik perladangan tradisional, sistem gilir balik, pengelolaan lumbung benih, dan budaya gotong royong yang dikenal sebagai menduru.

Menurut Prof. Aswin, pendekatan pembangunan pangan di Kalimantan Timur perlu mengintegrasikan inovasi modern dengan pengetahuan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi modal sosial dan ekonomi yang mampu mendukung ketahanan pangan secara berkelanjutan.

Pemateri berikutnya, Dr. Setia Lenggono, S.Sos., M.Si. dari Otorita IKN, menjelaskan strategi pengembangan ketahanan pangan di kawasan Ibu Kota Nusantara. Ia menyampaikan bahwa kawasan IKN memiliki sekitar 24.708 hektar lahan pertanian eksisting dengan potensi pengembangan hingga lebih dari 42.000 hektar. Strategi ketahanan pangan IKN dibangun melalui empat pilar utama, yaitu mempertahankan kawasan pertanian eksisting, intensifikasi berkelanjutan, pengembangan daerah mitra pangan, serta urban farming dan ekonomi sirkular.

Dr. Setia menegaskan bahwa pembangunan IKN harus mampu mengintegrasikan kemajuan teknologi dengan pelestarian budaya dan kearifan lokal. Produk pangan lokal Kalimantan Timur memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari rantai pasok pangan IKN sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Diskusi yang berlangsung interaktif menghasilkan berbagai rekomendasi strategis. Salah satunya adalah perlunya penguatan riset terhadap benih lokal dan komoditas pangan khas Kalimantan Timur, pengembangan teknologi pascapanen dan hilirisasi produk pangan lokal, dokumentasi pengetahuan pertanian adat, serta penguatan pendidikan dan regenerasi petani muda. Selain itu, peserta juga mendorong adanya regulasi yang mendukung pengakuan ladang adat, perlindungan lahan pertanian, serta pengembangan pasar bagi produk pangan lokal.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman bersama para pemangku kepentingan berharap dapat memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem pangan yang berkelanjutan, berdaya saing, dan berakar pada kekayaan budaya lokal. Ketahanan pangan Kalimantan Timur diharapkan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu menjaga keberagaman pangan, kelestarian lingkungan, dan keberlangsungan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Kalimantan Timur.

berita admin